|
makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas kuliah
Konseling advokasi dan mediasi
|
|
KONSELING ADVOKASI DAN MEDIASI
|
|
Paradigma Bimbingan dan Konseling Masa
Lalu, Sekarang dan Masa Depan
|
|
|
|
|
|
Dosen Pengajar
ZAHRA NELISSA, M.Pd
Oleh
:
M. Fathir Ma’ruf Nurasykim 140402014
Nurjalia
140402004
Sas jara
140402006
Hidayatun Rahmi 140402025
|
|
|
Universitas
Islam Negeri Ar-Raniry
Fakultas
Dakwah dan Komunikasi
Bimbingan
dan Konseling Islam
2016-2017
|
|
Kata Pengantar
Alhamdulillah Segala puji bagi Allah Ta’ala, yang telah memberikan
kesempatan dan waktu luang kepada penulis sehingga pada saat ini penulis telah
menyiapkan makalah tentang paradigma bimbingan dan konseling pada masa lalu,
masa kini, dan masa depan.
Secara umum konsep bimbingan dan konseling telah lama dikenal
manusia melalui sejarah. Sejarah tentang “developing
one’s potential” dapat ditelusuri dari masyarakat Yunani kuno. Mereka
menekankan tentang upaya untuk mengembangkan dan memeperkuat individu melalui
pendidikan., sehingga mereka dapat mengisi peranannya di masyarakat. Mereka
meyakini bahwa dalam diri individu terdapat kekuatan-kekuatan yang dapat
distimulasi dan dibimbing ke arsh tujusn-tujusn ysng berguns, bermanfaat atau
mengunutngkan baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat.
Bimbingan dan konseling
dewasa ini terus berevolusi dan bertransformasi tidak hanya menjadi salah satu
cabang ilmu yang memiliki genologi terhadap psikologi. Tetapi terus berkonstruksi
mengikuti zaman modern. Dahulu ia tidak diangggap sebagai ilmu yang berdiri
sendiri akan tetapi ia menjadi salah salah satu fungsi dari psikologi. Dahulu
pun paradigma bimbingan dan konseling hanya diperuntukkan oleh orang-orang yang
sedang bekerja, dan ranah terapannya hanya sebatas konseling, konsultasi,
koordinasi.
Bagaimana paradigma itu terus bertransformasi ke arah yang lebih
komplit, tidak hanya masa sekarang, tetapi juga di masa depan. Dan dalam
makalah ini penulis berusaha menjabarkan paradigma-paradigma dalam bimbingan
dan konseling. Semoga bermanfaat dalam penulisannya. Sekian.
Daftar
Pustaka
Kata Pengantar
i
Daftar Isi
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Era Perintis : 1908-1913
1
-
Perkembangan Program Konseling Di Lembaga dan Organisasi
a.
Era Perang Dunia: 1914-1915
b.
Era Perang Dingin: 1950-1980
2
c.
Era Globalisasi: 1980-sekarang
3
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Paradigma Bimbingan dan Konseling di Masa Lalu
4-9
B.
Paradigma Bimbingan dan Konseling di Masa Kini
9-11
C.
Paradigma Bimbingan dan Konseling di Masa
Depan
11-13
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
14-15
Daftar Pustaka
16
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut Prayitno (2004 : 99) Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan
oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu baik
anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan
kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan
sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sedangkan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui
wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang
sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya
masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno 2004: 105)
Berdasarkan pengertian tentang Bimbingan dan Konseling, dapat disimpulkan bahwa Bimbingan dan Konseling
adalah proses pemberian bantuan secara sistematis dan kontinyu oleh seorang
konselor kepada konseli melalui wawancara konseling sesuai dengan norma yang
berlaku agar teratasinya masalah konseli dan untuk mencapai kebahagiaan,
kemandirian, kesejahteraan, perkembangan optimal, dan aktualisasi diri yang
semuanya itu mengarah pada KES (kehidupan efektif sehari-hari).
[1]Menurut literature imam tertentu, peristiwa konseling paling awal
dalam sejarah manusia (meski harus dibuktikan lebih jauh) adalah ketika adam
menuai konsekuensi akibat makan buah terlarang di taman Eden. Namun, persisnya
kapan konseling dimulai jelas memerlukan penelitian. Mungkin bentuk primitive
konselor masa kini adalah kepala suku, tabib, dukun, peramal atau tetua
suku-suku kuno di mana masyarakat khusunya yang masih muda, mencari atau
disuruh mencari nasihat, petunjuk dan bimbingan orang lain yang dianggap
memiliki pengetahuan yang superior, wahyu atau pengalaman unggul. Pada
peradaban kuno, para filsuf, imam kuil, pendeta kerajaan, peramal, dan para
wakil agama dipercayai memegang fungsi penting untuk memberikan nasehat dan
menawarkan konseling. Diabad pertengahan, upaya-upaya konseling umumnya
berkembang pesat dengan memusat dibawah control lembaga keagamaan. Di awal abad pertengahan itu, tugas memberi
nasehat dan mengarahkan anak-anak muda berpusat ditangan imam-imam lokal.
Pada
1908 Frank Parsons mengorganisasikan sebuah lembaga kecil dan independent,
Boston Voacational Bureau, untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dan
pelatihan bagi anak-anak muda yang ingin mencari kerja di bidang tertentu dan
melatih para guru di sekolah-sekolah untuk bisa berfungsi, sebagai konselor
pekerjaan bagi siswa-siswanya yang akan lulus atau lebih jauh untuk meraih
kerja di bidang tertentu.
Setahun
kemudian, Parsons menerbitkan semua aktivitas biro dan metode yang akan
digunakannya tersebut dalam buku yang terbit tahun 1909, Choosing a Vocation, buku pertama di Amerika Serikat untuk topic
semacam ini sekaligus dasar klasik untk bidang studi konseling sendiri.
Parsons menyarankan kalau untuk memulai sebuah investigasi pribadi,
klien pertama-tama harus memepelajari dirinya sendiri secara ekstensif dan
intensif dengan menjawab sejumlah pertanyaan yang di lontarkan konselor berdasarkan
draf ysng disebutnya “jadwal data pribadi”. Konselor kemudian mengisinya secara
mendetail setelah membacakan setiap pertanyaan dan mendengar jawaban subjek.
-
Perkembangan Program Konseling Di Lembaga dan Organisasi
a.
Era Perang Dunia: 1914-1915
Perang
Dunia I tidak hanya menstimulasi pengembangan dan penggunaan sekelompok tes
standar pasca-perang, namun menghasilkan juga dua produk perundangan yang
signifikan bagi perkembangan salah satu spesialisasi awal konseling, yaitu
konseling rehabilitasi. Walaupun istilah “konseling
rehabilitasi” tidak muncul di leteratur professional sampai akhir 1930-an,
namun sejak tahun itu konseling rehabilitasi umumnya diidentifikasi sebagai
konseling psikologis yang khusus merehabilitasi individu-individu yang memiliki
problem fisik, social, dan emosi.
Veterans Administration (VA) membentuk pusat-pusat jasa di tahun
1944 untuk menyediakan konseling bagi mereka yang berhak berdasarkan GI Bill,
sebuah perundangan yang menyediakan pendidikan pelatihan khusus veteran. Akibatnya,
banyak konselor menrima pelatihan untuk pelayanan konseling yang disponsori VA
di kampus-kampus. Di tahun 1951, VA membentuk posisi yang disebut psikologi
konseling. Konseling, yang diakui sebagai salah satu keistimewaan di bidang
psikologi, juga muncul di kurun waktu ini.
b.
Era Perang Dingin: 1950-1980
Di
tahun 1950-an, spesialisasi lain juga muncul, konseling pernikahan dan
keluarga. Meskipun secara historis gerakan ini sudah dimulai sejak 1930-an.,
namun kondisi pasca-perang dunia kesua meningkatkan angka perpisahan dan
perceraian pasanagna-pasangan muda yang memicu perkembangan pesat terapi
pernikahan.
Periode setelah Perang Dunia II juga melihat perluasan cepat
layanan kesehatan mental komunitas. Trauma perang Vietnam dan era pasca-perang
bagi banyak veteran dan keluarga mereka menciptakan populasi lain yang
membutuhkan konseling kesehatan mental tertentu.
c.
Era Globalisasi: 1980-sekarang
Di
akhir 1980-an dan awal 1990-an, konseling khususnya konseling karier, sudah
berkembang meluas kea rah yang baru sama sekali. Arah ini mencakup jangkauan
layanan bagi warga miskin dan tunawisma, para pekerja paruh baya dan eksekutif
senior, program pencegahan dan intervensi awal alkoholisme dan penyalahgunaan
obat, dan focus kepada para pensiunan, manajemen stress dan konseling olahraga
dan penggunaan waktu luang.
Di
akhir abad XX, profesi konseling sangat dipengaruhi oleh teknologi dan
globalisasi. Dewasa ini penyatuan computer dengan teknologi komunikasi
menghasilkan transformasi social utama yang membentuk ulang masyarakat dan
ekonomi kita. Banyak orang berpendapat, dan argument mereka benar juga, kalau
perkembangan teknologi mempercepat proses komunikasi tanpa kita perlu terjatuh
lagi dalam kekeliruan dan bias. Namun, yang dihilangkan di sini adalah proses
komunikasi antar-pribadi, padahal profesi sebagai konselor meyakini kalau
keuntungan besar bisa diperoleh justru dari komunikasi antar-pribadi, atau
minimal komunikasi tatap-muka. Dan faktanya banyak konselor melihat
kecenderungan impersonalisasi ini sebagai ancaman bagi profesi dan aktivitas
mereka sebagai konselor. Yang jelas ancaman bagi profesi konseling saat ini
adalah kemungkinan pengacauan oleh individu-individu tak terlatih yang
kualifikasi satu-satunya Cuma mereka memiliki computer, membuka sitis online sendiri
dan sekedar membuat namanya dikenal dengan berbagai metode kuasi-psikologis
seperti ramalan bintang, garis tangan, aura, dan sebagainya.
Jadi pada dekade pertama abad XXI ini kita melihat peluang bagi
konseling untuk menjadi “profesi penolong” sesungguhnya, bukan lain karena
kemampuan historisnya merespon kebutuhan masyarakat selamaini, dan khususnya
untuk antisipasi dekade-dekade ke depan.
BAB II
PEMBAHASAN
Pada awalnya
bimbingan dan konseling lebih menekankan pada pendekatan yang berorientasi
tradisional, remedial, klinis-terapeutis, dan terpusat pada konselor. Mulai
dari bimbingan atau penyuluhan dalam bidang pekerjaan, kemudian berkembang pada
aspek pendidikan dan bimbingan pribadi. Dalam hal ini konselor sebagai pusat
pemandu dan membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi para konseli.
A.
Paradigma Bimbingan dan Konseling di Masa Lalu
Paradigma
konseling di masa lalu tidak terlepas dari sejarah terbentuknya gerakan-gerakan
bimbingan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh terkemuka. Di amerika sendiri
perkembangan bimbingan dan konseling bersifat button-up, yaitu dari pihak perorangan atau swasta kemudian menjadi
program pemerintah. Menurut American
Heritage®Dictionary pemaknaan paradigma kurang lebih adalah seperangkat asumsi,
konsep, nilai, dan praktek pelaksanaan yang merupakan cara pandang dari suatu disiplin ilmu untuk melayani masyarakat
(http://education.yahoo.com/reference/dictionary/entry/paradigm).
Oleh karena itu, paradigma bimbingan dan konseling berarti
seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek pelaksanaan yang merupakan cara
pandang dari bimbingan dan konseling
untuk melayani masyarakat. Untuk itu, di dalam disiplin bimbingan dan konseling
sudah semestinya ada asumsi, konsep, nilai, dan seperangkat pelaksanaan yang
merupakan perspektif dalam melayani masyarakat.
1.
Perkembangan Layanan Bimbingan di Amerika
[3]Sampai awal abad ke-20 belum ada konselor di sekolah. Pada saat itu
pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh para guru, seperti dalam
memberikan layanan informasi, layanan bimbungan pribadi, sosial, karir dan
akademik. Gerakan bimbingan di sekolah mulai berkembang sebagai dampak dari
revolusi industri, keragaman latar belakang para siswa yang masuk ke
sekolah-sekolah negeri. Berdasarkan keaneragaman para siswa yang masuk pada sekolah-sekolah negeri
dan sebagai dampak revolusi maka gerakan bimbingan di sekolah mulai berkembang.
Jasse B. Davis mulai
memberikan layanan konseling pendidikan
di SMA pada tahun 1898. Dan pada tahun 1907 dia di angkat menjadi kepala SMA di
Grand Rapids, Michigan. Tujuan dari program bimbingan yang dia buat adalah
membantu siswa agar mampu (a) mengembangkan karakternya yang baik (memiliki
nilai mural, ambisi, bekerja keras, dan kejujuran) sebagai aset yang sangat
penting bagi setiap siswa (orang) dalam rangka merencanakan, mempersiapkan dan
memasuki dunia kerja (bisnis). (b) mencegah dirinya dari prilaku bermasalah,
dan (c) menghubungkan minat pekerjaan dengan kurikulum (mata pelajaran).
Pada waktu yang sama
para ahli juga mengembangkan program bimbingan seperti:
a. Eli Weaper
Pada tahun 1906 dia telah menerbitkan bookletnya tentang memilih suatu
karir, dia telah berhasil membentuk komite guru pembimbing di setiap sekolah
yang semuanya aktif membantu para pemuda atau remaja untuk menemukan
kemampuan-kemanpuannya dan belajar bagaimana menggunakan atau mengembangkan
kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadi seorang pekerja atau pegawai
yang produktif.
b. Frank Parson
Frank Parson ini di kenal sebagai “father of the Guidance Movement in
American Education” yang mendirikan biro pekerjaan pada tahun 1908 di
Boston, Masschussets, yang bertujuan untuk membantu pemuda untuk memilih karir
yang didasarkan atas proses seleksi secara ilmiah dan melatih para guru untuk
memberikan pelayanan sebagai konselor vokasional. Menurut Parson konselor
vokasional harus memiliki (a) pemahaman kerja praktis dan prinsip-prinsip pokok
psikologi modern, (b) pengalaman bergaul dengan orang lain, pemahaman tentang
motif, minat, dan ambisi yang mengontrol kehidupan manusia, dan pemahaman
tentang faktor-faktor yang memepengaruhi karakter, (c) kemampuan untuk
berinteraksi dengan para remaja (kaum muda) dengan cara yang menarik, bersifat
menolng, simpatik, serius, dan terbuka, (d) pemahaman tentang persyaratan dan
kondisi berbagai dunia kerja (industry), (e) informasi tentang pendidikan yang
cocok untuk mempersiapkan suatu pekerjaan, dan (f) Pemahaman tentang metode
ilmiah dan prinsip-prinsip penelitian dalam upaya memperoleh kesimpulan atau
keputusan yang benar.
c. E.G. Williamson
Model bimbingan di sekolah yang di kembangkan oleh Williamson terkenal
dengan nama trait and factor (directive) guidance. Dalam model ini para
konselor mengunakan informasi untuk membantu siswa dalam memecahkan masalahnya,
khusuny dalam bidang pekerjaan dan penyesuaian interpersonal. Peranan konselor
bersifat directive dengan menekankan kepada (a) mengajar ketrampilan, dan (b)
membentuk (mengubah) sikap dan tingkah laku.
d. Carl R. Rogers
Rogers mengemukakan teori konseling client-centered, yang tidak
terfokus kepada masalah, tetapi sangat mementingkan hubungan antara konselor
dengan klienny. Pendekatan atau teori konseling Rogers ini terangkum dalam dua
bukunya yaitu Counseling and Psychotherapy (1942), dan Clint-Centered
therapy (1951). pada buku yang pertama dikenalkan tentang pendekatan konseling
non direktif sebagai alternative layanan di samping pendekatan direktif. Rogers
berpendapat bahwa klien bertanggung jawab dalam memecahkan masalah dan
mengembangkan dirinya sendiri. Dalam dalam buku kedua terjadi perubahan
semantic dari konseling non direktif menjadi konseling Client-Centered.
Pada september 1958 terjadi peristiwa penting dalam dunia pendidikan di
Amerika termasuk gerakan bimbingan dan konseling hal itu di tengarai karena
terjadinya peluncuran Sputnik I Uni Soviet pada tahun 1950, dan masyarakat
Amerika berfikir bahwa Uni Soviet akan mendominasi dalam teknologi industri dan
bidang ilmiah lainnya. sehingganya pada tahun 1958 kongres menyusun
undanag-undang, termasuk undang-undang pertahanan pendidikan pertahanan
nasional yang isinya memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk mengucurkan
dana bagi pendidikan seperti untuk pelatihan para konselor SLTP dan SLTA, dan
pengembangan program testing, program konseling sekolah, dan program bimbingan
lainya. Selama tahun 1960 – 1980-an telah terjadi perkembangan dalam peran dan
fungsi konselor sekolah berikut program-programnya. Perkembangan tersebut
meliputi : (a) pengembangan, penerapan, dan evaluasi program bimbingan
koperhensif. (b) pemberian layanan konseling secara langsung kepada para siswa,
orang tua dan guru, (c) perencanaan pendidikan dan pekerjaan, (d) penempatan
siswa, (e) layanan “referal” rujukan, dan (f) konsultasi dengan
guru-guru, tenaga administrasi dan orang tua. Khusus menyangkut peran konselor
di sekolah dasar “Joint Committee on elementari School Counselor”
mengklarifikasaikan menjadi tiga peran (fungsi) yaitu konseling, konsultasi dan
koordinasi. Pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah di
pengaruhi juga oleh munculnya berbagai organisasi professional dalam bidang
konseling seperti : (a) Amerikan Counseling Association (ACA), (b) Amerikan
School Counselor Association (ASCA), dan (c) Association of Counselor Education
and Supervision (ACES). Semua organiasai yang ada berupaya meningkatkan
profesionalitas para konselor, dengan meluncurkan program akreditasi dan
sertifikasi. Bradley ( John J. Pietrofesa et.al., 1980) menambahakan satu
tahapan dari tiga tahapan tentang sejarah bimbingan menurut stiller yaitu
sebagai berikut :
1. Vocational Exploration Yaitu tahapan yang menekankan tentang analisis individual dan pasaran
kerja. Tahapan ini mencoba menjodohkan manusia dengan pekerjaan.
2. Meeting Individual Needs Yaitu tahapan pada periode 40 s.d.
50-an yang menekankan kepada upaya membantu individu agar memperoleh kepuasan
kebutuhan hidupnya. Pada tahapan ini di pengaruhi oleh pendat maslow dan
rogers, yaitu bahwa manusia memeiliki kemampuan untuk mengembanagkan diri dan
memecahkan masalahnya sendiri.
3. Transisional profesionalism Yaitu tahapan yang memfokuskan perhatiannya kepada upaya profesionalisasi
konselor.
4. Situational Diagnosis Yaitu tahapan yang terjadi pada tahun 1970-an, sebagai periode perubahan
dan inovasi. Pada tahapan ini ada penekanan yang lebih kepada analisis
lingkungan dalam proses bimbingan, dan gerakan untuk menjauhi cara-cara
terapeutik yang hanya terpusat kepada diri individu.
Lima gerakan bimbingan dalam pendidikan oleh Kowitz
dan Kowitz (1971 dalam john J Pietrofesa et.al., 1980). Pertama, gerakan
penyesuain hidup dengan memperhatikan persiapan vokasional, keragaman
individual, dan kurikulum. Kedua, gerakan perkembangan anak pada tahun
1920-an yang di pengaruhi oleh pertimbangan teori psikoanalitik. Ketiga,
gerakan yang melibatkan guru-konselor. Keempat, gerkan proyek atau
program khusus yang menekankan tentang filsafat aktivisme sosial (philosophy
ofsocial ativism). Kelima, gerakan yang manaruh perhatian terhadap
redefenisi tujuan bimbingan dan prinsip-prinsip ilmiah bimbingan.
|
MASA LALU
|
MASA KINI
|
MASA DEPAN
|
|
Layanan konseling sekolah di abad
20:
|
Transformasi konseling sekolah
dengan visi baru praktik proaktif:
|
Program konseling yang intensional
dan bertujuan, terpadu dengan program pendidikan:
|
|
·
- Counseling
·
- Counsultation
·
- Coordination
|
·
- Counseling
·
- Consultation
·
- Coordination
·
- Leadership
·
- Advocacy
·
- Teaming and collaboration
·
- Assesment and use of data
·
- Technology
|
·
- Counseling
·
- Consultation
·
- Coordination
·
- Leadership
·
- Social justice advocacy
·
-Teaming and collaboration
·
- Assesment and use of data
·
- Technology
·
- Acountability
·
- Cultural mediation
·
- Systemic change agent
|
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa pada
abad ke-20, pelayanan konseling lebih terarah dan memfokuskan pada tiga bentuk
pelayanan, yang dikenal dengan sebutan 3C, akronim
dari: (1) Counseling, (2) Counsultation dan (3) Coordination. Dari
ketiga bentuk pelayanan tersebut, tentu intinya terletak pada layanan
konseling, yaitu layanan yang bertujuan membantu mengatasi masalah konseli
melalui melalui proses komunikasi timbal balik antara konselor dengan konseli.
Untuk menunjang efektifitas pelayanan konseling ditunjang oleh pelayanan
konsultasi dan koordinasi.
Oleh
karena itu, kemampuan memberikan layanan konseling merupakan layanan utama
seorang konselor. Ketiadaan layanan konseling baik dalam program atau pun dalam
kegiatan yang diberikan berarti minimal hampir separuh layanan profesi
bimbingan dan konseling telah hilang. Untuk itu layanan konseling merupakan
layanan yang pertama dan utama. Dari perspektif ini pulalah, maka tidak
mengherankan ada yang menyatakan bahwa konseling merupakan jantung dari
bimbingan. Kemampuan memberikan dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan
konseli dapat berkembang tidak hanya terbatas dalam suasana konseling semata.
Oleh karena itu diperlukan bentuk kegiatan layanan yang lain agar proses
konseling yang telah dilakukan dapat berhasil dengan baik. Kemampuan untuk
dapat bertindak dan berpikir sistemik ini adalah tantangan rutin dari tugas
seorang konselor sejak dahulu sampai sekarang dan masa yang akan datang.
Sedangkan kegiatan konsultasi merupakan kegiatan untuk
mengajak bekerja sama berbagai pihak lain untuk kepentingan konseli. Konselor
yang efektif akan membangun atau
memiliki jalinan kerja sama dengan berbagai pihak demi kepentingan konseli,
sehingga peran yang dilakukan tidak hanya terbatas pada “konselor sebagai
konselor” saja. Apalagi dalam masa atau proses ”menyembuhkan” konseli, peran
“konselor sebagai konsultan” menjadi
tuntutan yang harus dipenuhi. Konselor diharapkan dapat bekerja sama dengan
berbagai pihak lain yang dapat mempengaruhi diri konseli seperti kepala
sekolah, orang tua, guru, sahabat, teman sebaya, dan sebagainya yang
mempengaruhi kehidupan konseli. Kenyataan ini berimplikasi bukan hanya
ketrampilan sebagai konselor semata yang diperlukan melainkan juga keahlian
dalam proses pengkonsultasian (consulting process). Elemen consulting menurut Dougherty dalam Sciarra, 2004: 55 ada
tiga: a. Consulting is tripartite. b.
The goal of consulting is to solve problem. c. Another goal of consulting is to improve
the consultee’s work with the client
and, in turn, improve the welfare of client.
Hal yang senada disampaikan
oleh Brown, Pryzwansky, dan Schulte
(20001: 56): konsultasi adalah suatu proses pemecahan masalah secara sukarela
yang dapat dimulai atau diakhiri oleh consultant maupun consultee. Hal itu terjadi dengan
tujuan membantu consultee mengembangkan sikap dan ketrampilan yang memungkinkan consultee berfungsi lebih
efektif dengan konseli, yang dapat
secara individual, kelompok, atau organisasi yang menjadi tanggung jawabnya.
Jadi, tujuan dari proses ini memiliki dua sisi: pertama, memperbaiki pelayanan
pada pihak ketiga; kedua, meningkatkan kemampuan consultee untuk melakukan
tugasnya. Fungsi yang perlu dilakukan misalnya melakukan penilaian, alih
tangan, hubungan masyarakat, dan sebagainya.
Di samping kemampuan memberikan konsultasi, konselor juga
harus mampu melakukan koordinasi. Kegiatan koordinasi merupakan kegiatan
konselor untuk melakukan penataan dan pengaturan berbagai pihak lain agar bisa
mensinergikan hasil yang bermanfaat bagi konseli. Oleh karena itu, konselor
selalu memiliki sisi peran selaku koordinator. Sehubungan dengan itu konselor
harus sanggup menangani berbagai segi program pelayanan yang memiliki ragam
variasi pengharapan dan peran dari berbagai pihak. Dari hal ini tentulah sangat
diperlukan kemampuan konselor untuk mengatur dan menggerakkan berbagai pihak
agar dapat mencapai hasil yang diharapkan. Untuk itu perlu keahlian dalam
perencanaan program, penilaian kebutuhan, strategi evaluasi program, penetapan
tujuan, pembiayaan, dan pembuatan keputusan. Oleh karena itu beberapa fungsi
konselor yang terkait dengan hal tersebut adalah menjadwalkan kegiatan,
melaksanakan kegiatan, sampai dengan mengevaluasi kegiatan dan bahkan
melaporkan kegiatan memerlukan
koordinasi yang baik.
B.
Paradigma Bimbingan dan Konseling di Masa
Kini
Kemudian,
paradigma yang kedua adalah paradigma
bimbingan dan konseling yang semestinya sudah dilaksanakan pada saat sekarang,
yaitu layanan bimbingan dan konseling telah mengalami transformasi, dengan visi
baru yang bersifat proactive practice. Artinya, tidak lagi bersifat klinis
semata namun lebih bersifat pengembangan (developmental). Bimbingan dan
konseling tidak bisa lagi hanya menunggu tetapi harus bersifat proaktif,
memberikan berbagai fasilitas yang memungkinkan individu dapat mengembangkan
diri sesuai potensinya. Kendati demikian, pelayanan 3C yang mewarnai periode sebelumnya masih
dipertahankan, dilengkapi dengan 5 komponen baru, yaitu: (1) kepemimpinan; (2) advokasi; (3) kerja tim dan kolaborasi; (4)
asesmen dan pemanfaatan data; dan (5) pemanfaatan
teknologi.
Kepemimpinan dibutuhkan oleh
konselor bukan hanya pada saat menentukan prioritas layanan program bimbingan
tetapi juga dalam rangka meningkatkan profesionalisme kinerja secara terus
menerus. Memang paling tidak konselor jika menghendaki akan berhasil tugasnya
maka minimal harus bisa memimpin pelaksanaan programnya.
Handerson (1999: 79-82)
menjelaskan ada enam tugas kepemimpinan yang telah diidentifikasi sebagai dasar
untuk mencapai kinerja yang maksimal dalam melaksanakan program bimbingan. a.
Mengorganisasikan program bimbingan dan konseling, b. Melakukan advokasi
terhadap program bimbingan dan semua stafnya, c. Menegaskan tugas koselor di
dalam program bimbingan dan konseling, d. Mendorong konselor secara terus
menerus untuk mengembangkan profesionalitasnya, e. Mengadakan supersvisi bagi
konselor secara profesional f. Mengevaluasi kinerja konselor.
Dari enam tugas kepemimpinan tersebut nampak bahwa
konselor minimal harus dapat melaksanakan kepemimpinan bagi program yang telah
dirancang, yang selanjutnya menunjukkan kepada pihak lain tentang tugas dan
kewajibannya terkait dengan programnya. Kemudian kegiatan kepemimpinan yang
bersifat antisipatif dilakukan dengan pengembangan profesioanlitas secara
berkelanjutan, mensupervisi kegiatan konselor, dan terakhir adalah mengevaluasi
kinerja sebagai bahan refleksi. Selanjutnya, di dalam program bimbingan dan
konseling model komprehensif terdapat empat komponen pelayanan, yaitu: (1) pelayanan dasar bimbingan; (2) pelayanan
responsif, (3) perencanaan indiviual,
dan (4) dukungan system (Dirjen PMPTK, 2007). Untuk dapat melaksanakan keempat
komponen pelayanan tersebut maka konselor harus mempu bertindak sebagai
konsultan. Sebagai implikasi dari tugas dan peran konselor sebagai konsultan
maka konselor memiliki tanggung jawab untuk melakukan advokasi, bekerja secara
tim dan berkolaborasi (Baker dkk., 2009). Hal ini sebagai bentuk layanan yang
bersifat antisipatif. Memang pada awalnya kegiatan konsultasi sebagai bentuk
bagian kegiatan layan yang bersifat responsif semata.
Lebih
lanjut Baker dkk. (2009) menjelaskan bahwa konsultasi kepada konselor dapat
dibedakan menjadi lima kategori, yaitu: prescription, provision, initiation,
collaboration and mediation. Hal ini nampak sekali konsultasi sebagai strategi
pelayanan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling, dimana konsultasi dapat
menjadi starategi dari layanan responsif, perencanaan individual, maupun
dukungan sistem. Konsultasi sebagai bentuk layanan responsif, sebagai contoh,
maka konselor bertanggung jawab untuk melakukan advokasi. Konsultasi sebagai
layanan perencanaan individu, misalnya,
maka konselor akan memberikan konsultasi dalam bentuk preskripsi atau
prosisi. Konsultasi sebagai layanan dukungan sistem, maka konselor akan bekerja
secara tim dan berkolaborasi dengan semua aktor sekolah (mulai dari kepala
sekolah, guru, siswa, orangtua, sampai dengan komite sekolah) dalam rangka
membangun sistem dan memberikan/menyediakan lingkungan yang baik bagi siswa
untuk dapat berkembanga secara maksimal. Di samping
itu, hal lain yang diasumsikan semestinya sudah dikerjakan oleh konselor
pada waktu sekarang
adalah pemanfaatan
teknologi. Seperti diketahui
pada umumnya bahwa teknologi dan informasi
menjadi ciri abad 21 ini. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi untuk keperluan bimbingan dan konseling
semestinya harus sudah
mulai dipikirkan
dan dilaksanakan. Pemanfaatan teknologi informasi
dapat mulai dari yang sederhana menuju
pada yang canggih. McMillen dan Pehrsson (2009) menunjukkan pemanfaatan
teknologi informasi (web site) untuk biblioterapi.
Sementara itu, House dan Hayes (2002)
sebenarnya telah lebih dahulu memperingatkan akan pentingnya perubahan
visi dalam bimbingan dan konseling
tersebut. Urgensi paradigma tentang kepemimpinan, advokasi,
bekerja secara tim dan
berkolaborasi, memanfaatkan asesmen dan penggunaan data, serta serta pemanfaatan teknologi.
Perubahan dan perkembangan layanan ini sebagai bentuk kegiatan layanan yang
bersifat proaktif menghadapi dinamika perubahan masyarakat dan para pemangku
kepentingan (stakeholder). Pemanfaatan teknologi di dalam bimbingan dan konseling
telah disampaikannya
saat masyarakat dunia mengalami dampak dari
perkembangan ilmu dan teknologi.
C.
Paradigma Bimbingan dan Konseling di Masa Depan
Pada masa mendatang diharapkan
program Bimbingan dan Konseling harus bertujuan secara jelas dan dilkukan
dengan perhitungan dan hati-hati. Hal ini karena program Bimbingan dan
Konseling harus sesuai dan terintegrasi dengan lembaga pendidikan. Oleh
karena itu, program harus disusun untuk mendukung tujuan pendidikan
di sekolah. Dari perspektif ini maka kegiatan bimbingan dan konseling sedapat
mungkin menjadi bagian dari program sekolah pada umumnya. Setiap jenis kegiatan
bimbingan dan konseling akan dapat dirasakan dampak dan sumbangannya. Untuk itu
bentuk layanan yang diberikan yang diberikan juga akan bertambah luas
spektrumnya mulainya dari pemberian layanan konseling, konsultasi, koordinasi,
kepemimpinan, advokasi, bekerja secara tim dan berkolaborasi, memanfaatkan
asesmen dan penggunaan data, pemanfaatan, teknologi, pertanggung jawaban,
mediasi kultural, serta agen perubahan yang sistematik.
Untuk waktu-waktu yang
akan datang pertanggung jawaban menjadi isu yang penting untuk diperhatikan.
Hal ini menyangkut profesionalitas layanan yang diberikan oleh guru pembimbing,
artinya bahwa setiap layanan yang diberikan para pelaku profesi bimbingan dan
konseling akan dapat dimintai pertanggung jawabannya. Demikian pula peranan
atau kompetensi untuk menjadi mediator cultural bagi konselor semakin dituntut
kinerjanya.
Kebutuhan akan konseling setiap hari semakin bertambah sebagai dampak konflik yang terjadi dalam
masyarakat.
Konflik di masyarakat adalah suatu
keniscayaan. Konflik terjadi akibat semakin tinggi mobilitas
dan interaksi anggota masyarakat
yang semakin banyak dan
beragam latar belakang budayanya. Di sekolah
sebagai
ajang bertemunya berbagai macam
latar belakang budaya
sangat mungkin terjadi konflik
berlatar belanag budaya ini. Kondisi ini
dimasa yang akan datang diprediksi akan semakin rawan jika
konselor tidak dapat
menanganinya. Namun, banyak konflik yang dapat ditangani dengan
baik menggunakan non terapis teknik
resolusi konflik. Strategi
resolusi konflik,
mediasi khususnya.
Courtland Lee seorang professor
dalam bidang konseling multikultural berdasarkan pengalamannnya. dalam bidang
multikultural, menyebutkan adanya lima kearifan yang dapat dijadikan landasan
konseling yang berbasis multikultural Kelima kearifan itu adalah: ”(1) Respect
your client’s belief in the power of the healer, (2) Promote a holistic
perspective, (3) Emphasize the psycholospiritual dimension of the client’s
reality, (4) Adopt an active helping role, (5) Accept cultural difference as
merely difference and not deviation”
(dalam “Counseling Today”, ACA, April 2009, hal. 14)
Perubahan paradigma dalam
memberikan layanan Bimbingan dan Konseling dari waktu ke waktu menunjukkan
bahwa profesi bimbingan dan konseling bersifat dinamis. Dinamika didalam
melaksanakan tugas merupakan manifestasi kompetensi dan profesionalisme dari
seorang konselor.Kemampuan mensiasati dan memilih strategi yang sesuai dengan
tuntutan kebutuhan dan perkembangan akan menjadi amunisi yang ampuh untuk mampu
menghadapi berbagai dinamika dan perubahan yang dihadapi.
Para
futurist telah merumuskan empat konsep masa depan yang dapat dijadikan rujukan
yaitu: (a) probable future atau masa depan yang mungkin
terjadi, (b) possible future, atau masa depan yang kemungkinan
dapat terjadi, (c) plausible future, atau masa depan yang dapat
terjadi, dan (d) preferable future, atau masa depan yang
diharapkan terjadi (Inbody, 1984, dalam Tarrell Awe Agahe Portunan,
2009). Serta yang terakhir adalah
konselor sebagai agen perubahan. Sebagai agen perubahan bagi konseli, agen
perubahan bagi lingkungan dirinya bekerja, dan juga bagi masyarakat sekitarnya.
Terkait dengan hal itu, bimbingan dan konseling memiliki peran dan posisi yang
amat strategis dalam upaya membangun watak bangsa. Semua upaya itu harus
diawali dengan membangun kualitas layanan bimbingan dan konseling yang utuh dan
paripurna. Pada dasarnya makna watak yang utuh adalah memiliki kemampuan
melakukan hubungan timbal baliok secara sehat dengan lingkungan Maha Besar di
luar dirinya yaitu “Tuhan Yang Maha Kuasa”, disamping kemampuannya berhubungan
timbal balik secara sehat dengan dirinya sendiri dan orang lain serta
lingkungan sekitarnya. Dalam konteks “national
character building”, layanan bimbingan dan konseling harus mampu membangun
watak yang utuh dan paripurna yang dilandasi dengan nilai-nilai kecerdasan
intelektual, emosional, moral dan spiritual. Semua watak itu harus menjadi
haluan dari keseluruhan layanan bimbingan dan konseling.
Kesimpulan
Pada awalnya
bimbingan dan konseling lebih menekankan pada pendekatan yang berorientasi
tradisional, remedial, klinis-terapeutis, dan terpusat pada konselor. Mulai
dari bimbingan atau penyuluhan dalam bidang pekerjaan, kemudian berkembang pada
aspek pendidikan dan bimbingan pribadi. Dalam hal ini konselor sebagai pusat
pemandu dan membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi para konseli.
Pada saat ini
telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling yang lebih
menekankan pada pengembangan (developmental) yang bersifat proaktif.
Pedekatan bimbingan dan konseling perkembangan (developmen guidance and
conseling) atau bimbingan komprehensif didasarkan pada upaya
pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan
masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar
kompetensiyang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga
bimbingan dan konseling berbasis standar(standar based guidance and
conseling). Sedangkan Maksud dari pendekatan yang berorientasi
preventif adalah bimbingan sebagai alat yang bersifat preventif (mencegah) dan
konseling sebagai alat yang bersifat kuratif (memperbaiki). Meskipun demikian,
hal tersebut tidak berarti bahwa bimbingan tidak berarti tidak memiliki sifat
kuratif, begitupun konseling tidak berarti tidak memiliki sifat preventif.
Dalam konseling, diperoleh segi preventif dalam arti menjaga atau mencegah
masalah yang lebih dalam.
Dalam hal
tersebut juga dijelaskan bahwa pelayanan yang asalnya memiliki tiga komponen
menjadi lima komponen, yaitu
(1)
kepemimpinan;
(2) advokasi;
(3) kerja tim
dan kolaborasi;
(4) asesmen dan
pemanfaatan data; dan
Bahkan menurut Carol A Dahir
dan Carolyn B. Stone, setidaknya terdapat 3 komponen baru yang diperlukan
melengkapi pelayanan Bimbingan dan Konseling di masa mendatang, yaitu:
(1)
akuntabilitas;
(2) mediasi
kultural; dan
(3) agen perubahan sistemik.
ketiga hal
tersebut akan menjadi hal yang terpenting dan dibutuhkan dalam melakukan proses
bimbingan dan konseling di masa yang akan datang. Hal ini merujuk pada tingkat
permasalahanyang semakin kompleks dan luas.
Dapat
disimpulkan bahwa diperlukan paradigma baru mengenai bimbingan dan konseling,
untuk menyeimbangi kemajuan zaman terutama kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang menimbulkan berbagai permasalahan baru yang tidak dapat
dipecahkan dengan metode-metode yang terdahulu. Perlu pengkajian dan penelitian
yang baru dalam memecahkan permasalahan baru ini, yang tentunya memerlukan
disiplin ilmu. Para konselor diupayakan meningkatkan keilmuan dan kemampuan
mereka dalam melakukan proses bimbingan dan konseling dalam proses memberikan
bantuan kepada konseling.
Daftar Pustaka
Prayitno, (2013). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta,
Rineka Cipta.
Gibson, R.L dan Mitcheel, M.H, (2011). Bimbingan dan Konseling,
Yogyakarta, PUSTAKA PELAJAR.
Yusuf, S dan Juntika, A. (2006). Landasan Bimbingan dan Konseling,
Bandung, UPI & REMAJA ROSDAKARYA.
Dalam paradigma konseling masa kini ada layanan berupa kolaborasi, pemanfaatan teknologi, kepemimpinan dan lain sebagainya. Sedangkan yg saya tau layanan. Konseling itu ada orientasi, penempatan dan penyaluran, konseling kelompok, kunjungan rumah, konsultasi, mediasi, konten dan lain lain. Jadi yg saya pertanyakan apakah layanan yg disebut pemakalah adalah layanan yang baru atau memang layanan turunan dari yg saya sebutkan. Terimakasih
BalasHapus
HapusTerimakasih kepada uswah yang telah bertanya, sebagaimana yg kita ketahui benar bahwa didalm layanan konseling terdapat layanan orientasi, layanan individu, layanan kelompok, layanan pembelajaran, layanan konsultasi, layanan mediasi, layanan advokasi, layanan informasi.yang disebut dalam makalah berupa kepemimpinan, advokasi, kolaborasi, asesemen dan pemanfaatan teknologi merupakan komponen baru dalam layanan konseling. Contohnya pemanfaatan teknologi. Penggunaan teknologi berupa hp,komputer, laptop ini bisa digunakan orang2 dalam melakukan bimbingan dan konseling. Penggunaan teknologi semacam ini pada pelaksanaan bimbingan konseling ini, menurut saya sangat membantu bagi klien-klien yang berjarak jauh dengan seorang konselor.
Salah satu layanan bimbingan dan konseling dengan menggunakan teknologi computer khusunya internet adlah E-conseling. Konseling melalaui e-mail sering disebut dengan email therapy, online therapy, cybercounseling atau e-conseling. Email conseling merupakan proses teraputik yang didalamnya termasuk menulis selain pertemuan secara langsung dengan konselor.
E-conseling merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam proses konseling jarak jauh yang dilakukan antarkonselor dan klien untuk membantu masalah-masalah yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian dan kehidupan klien surat atau tulisan pada internet. E-konseling ini sebagaimana yang telah kita pelajari di semeseter lalu bahwa pada masa kini e-konseling sangat berguna dalam membantu mempermudah klien yang berjarak jauh, namun lebih efektif memang konseling yang dilakukan secara langsung atau tatap muka. Namun, seiring dengan perkembangan jaman kita harus memanfaatkan teknologi dan memang pada situasi tertentu teknologi itu harus digunakan. Begitu pula pada komponen layanan advokasi yang dimana konselor membela hak2 klien yang tercederai. Advokasi ini dulunya ialah sebagai fungsi konseling namun pada saat ini dijadikan sebagai layanan mengingat pentingnya layanan ini untuk mengatasi permasalahan tentang klien yang tercederai haknya. Kepemimpinan, kolaborasi, pemanfaatan data, advokasi, pemanfaatan teknologi, ini merupakan komponen dalam layanan konseling pada saat ini
Assalamualaikum..
BalasHapussebagaimana kita ketahui bahwa ilmu konseling terus berkembang seiring bertambahnya ilmu pengetahuan,Selaku kita calon konselor, menurut kelompok 2, apa yg seharusnya kita lakukan untuk mengembangkan ilmu konseling dimasa depan? Kontribusi seperti apa yang akan kalian lakukan untuk membuat konseling diindonesia menjadi konseling yang mendunia sebagaimana yg terdapat di barat. Terimakasih
Untuk itu layanan konseling merupakan layanan yang pertama dan utama. Dari perspektif ini pulalah, maka tidak mengherankan ada yang menyatakan bahwa konseling merupakan jantung dari bimbingan. Kemampuan memberikan dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan konseli dapat berkembang tidak hanya terbatas dalam suasana konseling semata. Oleh karena itu diperlukan bentuk kegiatan layanan yang lain agar proses konseling yang telah dilakukan dapat berhasil dengan baik. Kemampuan untuk dapat bertindak dan berpikir sistemik ini adalah tantangan rutin dari tugas seorang konselor sejak dahulu sampai sekarang dan masa yang akan datang.
Hapussambungan awaban di atas cut
HapusDapat disimpulkan bahwa diperlukan paradigma baru mengenai bimbingan dan konseling, untuk menyeimbangi kemajuan zaman terutama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menimbulkan berbagai permasalahan baru yang tidak dapat dipecahkan dengan metode-metode yang terdahulu. Perlu pengkajian dan penelitian yang baru dalam memecahkan permasalahan baru ini, yang tentunya memerlukan disiplin ilmu. Para konselor diupayakan meningkatkan keilmuan dan kemampuan mereka dalam melakukan proses bimbingan dan konseling dalam proses memberikan bantuan kepada konseling.
dalam bidang multikultural, menyebutkan adanya lima kearifan yang dapat dijadikan landasan konseling yang berbasis multikultural Kelima kearifan itu adalah: ”(1) Respect your client’s belief in the power of the healer, (2) Promote a holistic perspective, (3) Emphasize the psycholospiritual dimension of the client’s reality, (4) Adopt an active helping role, (5) Accept cultural difference as merely difference and not deviation”. arti dan maksudnya ?? mohon penjelasannya ya kawan pemakalah...
BalasHapus(1) Respect your client’s belief in the power of the healer...ini adalah bagaimana rasa hormat seorang konselor kepada keyakinan kliennya terhadap sebuah kekuatan dari seorang penyembuh....Konselor meyakini bahwa yang hanya mengerti permasalahan dan memecahkan permasalahan-permasalahan klien adalah klien itu sendiri..
Hapus(2) Promote a holistic perspective, mempertimbangkan sebuah pandangan atau perspektif yang menyuluruh...tidak boleh sepotong-sepotong..tidak boleh dipandang atau diasumsikan sebagai suatu yang integral tetapi secara parsial.
(3) Emphasize the psycholospiritual dimension of the client’s reality,, menegaskan pendapat adanya peran dimensi psikospiritual dalam kenyataan atau realita klien
(4) Adopt an active helping role, memakai sebuah peranan yang aktif dalam membantu.
(5) Accept cultural difference as merely difference and not deviation, menerima perbedaan-perbedaan kultur hanya sebagai perbedaan bukan penmyimpangan
assalamualaikum
BalasHapus1. dalam paradigra masa kini kan ada konseling, konsultan dan coordinasi..pertanyaannya
dmana letak bimbingan?
2. yang dimaksud paradigma masa kini pe maksudnya? karena jika dilihat paradigma masa kini ada - Counseling
· - Consultation
· - Coordination
· - Leadership
· - Advocacy
· - Teaming and collaboration
· - Assesment and use of data
· - Technology.
sedangkan sekarang kita sudah dapat paradigma tersebut seperti adanya konseling lintas budaya,mediasi dan advokasi, tetapi jika di lihat dalam paradigma tersebut itu berada di paradigma masa depan,
jadi yang dimaksud paradigma masi kini pe? msa sekarang kah atau masa dibuatnya paradigma tersebut?
layanan yang saudari katakan adalah dulunya hanya sebagai fungsi dari layanan konseling itu sendiri,,namun hari ini telah menjadi cabang suatu ilmu konseling..
Hapussedangkan yang kesepuluh itu merupakan paradigma..berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek pelaksanaan yang merupakan cara pandang dari bimbingan dan konseling untuk melayani masyarakat.
bagaimana orientasi dalam memberikan layanan konseling berdasarkan paradigma yang saat ini berkembang dan digunakan.,
saya ingin bertanya kepada penulis, di blog ada disebutkan bahwa "konselor sebagai agen perubahan. Sebagai agen perubahan bagi konseli, agen perubahan bagi lingkungan dirinya bekerja, dan juga bagi masyarakat sekitarnya." tlg diperjelas kembali maksudnya.
BalasHapusjadi, yg ingin saya tanyakan adalah yg harus ada perubahan kan klien, kenapa itu disebutkan konselor sebagai agen perubahan, apanya yg diubah dari konselor?
terus bagaimana dengan konselor yang gaptek?, dan sampai usia berapa konselor berhenti menjadi konselor (pensiun)?, kalo udah pensiun apakah masih boleh buka praktek?
baik terima kasih kepada saudari miska rahmah yang telah menanyakan kepada kelompok kami dengan pertanyaan yang sangat menarik
Hapusok saya jawab dulu yang apa kah konselor yang sudah pensiun masih boleh buka praktek jawaban nya adalah boleh boleh saja kita dipensiun sekita umur 60 tahun itu yang bekerja di PNS atau di lembagapemerintahan. kalau untuk membuka praktek sendiri selama kita mampu boleh boleh saja
terima kasih
kata kunci dari proses bimbingan dan konseling adalah perubahan...
Hapustentu perubahan ke arah yang lebih baik..inilah indikator dari pemberian layanan ini...
yang diinginkan adalah perubahan..tentu perubahan bagi siapa yang ingin berubah,,bagi klien dan juga bagi masyarakat yang ada di lingkungan..
berkaitan dengan konselor yang gaptek,,.merupakan suatu masalah..karena asas konseling ada yang namanya asas kekininian..artinya kemoderenan...modern dalam sistem pelayanan.
Assalamualaikum. Saya mau nanya, apakah setiap paradigma yang berlaku pada bimbingan dan konseling memberi kemudahan dalam bidang tugas para konselor, dan bagaimana sekiranya ada para konselor yang masih tetap melaksanakan bimbingan dan konseling yang lama tanpa melakukan perubahan di pada masa sekarang? Apakah masih efektif layanan konselingnya?
BalasHapuswaalaikum salam saudari ainur mardhiah.baik pertanyaannya menarik sekali.masa dalam konseling yang kami bahas ada 3 yaitu masa lalu,masa kini dan masa akan datang. ok setiap masa itu mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. kita tidak bisa mengatakan masa mana yang paling efektif digunakan. karena tidak ada yang sempurna masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihan tersendiri di setiap masa tersebut.
Hapussama juga dengan halnya teori konseling dia tidak bisa berdiri sendiri. setiap teori ada kelemahan dan kelebihan. sehingga teori yang satu harus di dukung oleh teori yang lain. semoga cukup menjawab
paradigma tersebut terus berkembang bergantung kepada konteks pemahaman layanan konseling dari masa ke masa..dan perlu dipahami bahwa paradigma-paradigma tersebut lahir dilatarbelakangi oleh landasan historis yang berbeda...
Hapusdahulu bimbingan dan konseling hanya dipraktekkan dalam lingkungan sekolah,,,.seiring zaman berubah,..para ahli berpendapat bahwa layanan konseling ini akan terus berkemabng dan semakin besar peluangnya untuk dibutuhkan.,..
sehingga terdapat penambahan-penambahan dalam pelaksanannya.. dalam setiap proses tidak harus semua paradigma yang menjadi cikal bakal layanan itu dilakukan. tergantung permasalahan dan bagaimana orientasinya di zaman sekarang.
Assalamualaikum, saya mau bertanya di point paradigma bimbingan dan konseling dimasa depan, nah disitu ada dijelaskan 13 bentuk layanan di sekolah, Pertanyaan saya, apakah harus mengaplikasikan semua bentuk itu layanan tersebut? Dan jika tidak, bentuk apa saja yang sering digunakan dalam bentuk layanan tersebut agar sesi konseling itu berhasil?
BalasHapusTerima kasih 😊
waalaikum salam saudari nur awathif. sebelum nya kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya di sini.baik dalam bimbingan konseling masa depan itu ada 13 bentuk layanan dosekolah. dan tidak mesti ke 13 itu harus di aplikasikan disekolah. dan yang sering di aplikasikan seperti di sekolah saya dulu cuma dua layanan konseling dan teknologi
Hapusterima kasih
tidak harus semua di praktekkan dalam pelayanannya...tergantung seberapa urgensi paradigma yang menjadi layanan tersebut digunakan dalam suatu permasalahan..bentuk 3 layanan yang pertama adalah wajib diberikan..karena merupakan asas atau dasar dalam pemberian konseling...selanjutnya dapat dikondisikan dilihat dari pengertian masing-masing paradigma
HapusPada msa skrg ini plyanan 3C juga msh dprthankan dan juga dilengkpi dengan 5 komponen, slah satunya kalaborasi, yg ingin sya tnyakan mksd dri klaborasi dsni sprti apa? Dan apakah kalborsi ini smestinya dpkai pda stiap proses knsling? Atau hanya pda pnylsaian mslah mslah trtentu saja?kemudian pda penjelsan pemklah minggu lalu telh dsbtkan bhwa trdpt empt konsep msa dpn yg dpt djdikan sbgai rujukan, salah satunya yaitu: *masa depan yg mgkin terjdi dan *msa dpan yg kemgkinan dpt trjdi, yg ingin sya tnyakan apa yg menjadi perbdaan pada kedua konsep ini? Bkankah kdua konsep itu sama?
BalasHapussetelah lima paradigma barulah masuk ke teamming dan collaboracy...
Hapuskolabarasi tepatnya setelah paradigma advokasi...
dalam prakteknya,,terdapat masalah-masalah yang konselor dan klien sama-sama tidak menemukan jalan keluar dari pemecahan suatu masalah..Disini lah letak penting kerja tim dan juga kolaborasi dari seorang konselor terhadap pihak-pihak yang terkait dalam permasalahan seorang klien..
tergantung dari pada teknik dan juga usaha konselor..apakah dalam berkolaborasi dapat memecahkan suatu permasalahan atau malah mendapatkan permasalahan baru...
secara eksplisit mungkin hampir sama tapi terdapat perbedaan persentasi kemungkinan terjadinya..
masa depan yang mungkin terjadi bisa dikatakan kejadian itu diprediksi dalam waktu dekat terjadi..
masa depan yang kemungkinan dapat terjadi adalah kejadian yang mungkin terjadi namun dalam kurun waktu yang lama dan bisa diluar dugaan kemungkinan terjadinya
Assalamualaikum, saya mau bertanya, bagaimana pendapat kalian mengenai konseling di masa yg akan datang? Khususnya di Indonesia. karena seperti yg kita tau, konseling tidak berkembang di Indonesia. Apalagi bagi konselor di bidang sosial worker. Thanks..
BalasHapus